Inhibition Zone Analysis

Domain: Mikrobiologi Pangan · SQalytics · Skrining aktivitas antimikroba via disk diffusion (Kirby-Bauer / CLSI M02)

1 Introduksi

1.1 Latar Belakang

Uji difusi cakram (disk diffusion / Kirby-Bauer assay) adalah metode in vitro standar untuk skrining aktivitas antimikroba. Diperkenalkan oleh Bauer, Kirby, Sherris, & Turck (1966) dan distandarisasi oleh CLSI M02 / M07 dan EUCAST, metode ini bekerja dengan menempatkan cakram kertas berisi antimikroba di atas lawn agar yang sudah diinokulasi mikroba uji. Selama inkubasi 18–24 jam, antimikroba berdifusi membentuk gradien konsentrasi, dan mikroba tertindas membentuk zona jernih (zone of inhibition). Diameter zona dalam mm berkorelasi dengan minimum inhibitory concentration (MIC) — semakin besar zona, semakin sensitif mikroba (CLSI, 2023).

Untuk ekstrak bahan alam, uji difusi sumuran (well diffusion) sering dipakai sebagai variasi. Interpretasi diameter memerlukan kalibrasi terhadap kontrol positif (antibiotik standar) dan kontrol negatif (pelarut). Strength band heuristik untuk ekstrak bahan alam: < 8 mm (lemah), 8–14 mm (sedang), 15–19 mm (kuat), ≥ 20 mm (sangat kuat) — tetapi acceptance criteria final harus mengacu CLSI M100 untuk antibiotik tertentu (CLSI, 2024).

1.2 Tujuan Modul

1.3 Posisi di Antara Alternatif

Pilih Inhibition Zone Analysis untuk screening cepat. Untuk uji statistik lanjut (asumsi, post-hoc), pakai Compare Many Groups. Untuk kuantifikasi MIC dari microdilution, gunakan modul terpisah (akan datang). Untuk kinetika kill curve, gunakan Microbial Growth Curves.

2 Metode

2.1 Dasar Teoretis

Prinsip difusi cakram mengikuti hukum difusi Fick. Konsentrasi antimikroba pada jarak $r$ dari pusat cakram:

$$ C(r, t) = \frac{M}{4\pi D t} \exp\left(-\frac{r^2}{4 D t}\right) $$

Mikroba tertindas selama $C(r, t_{\text{kritik}}) \geq \text{MIC}$. Diameter zona berkorelasi linier dengan log MIC untuk antimikroba dengan difusi konstan (CLSI M100, 2024).

Statistik dasar untuk perbandingan kelompok:

Welch's t-test (2 grup, tidak asumsi variansi sama):

$$ t = \frac{\bar{x}_1 - \bar{x}_2}{\sqrt{s_1^2/n_1 + s_2^2/n_2}} $$

One-way ANOVA F-test (≥ 3 grup): $F = \text{MS}_{\text{between}}/\text{MS}_{\text{within}}$, derajat kebebasan $(k-1, N-k)$ (Montgomery, 2017). Bila $p < 0.05$ → ada perbedaan, lanjut ke post-hoc.

Strength band heuristik (BUKAN standar resmi):

Diameter (mm)KategoriCatatan
< 8Tidak/lemahTermasuk diameter cakram (~6 mm)
8–14SedangDapat diteruskan ke MIC
15–19KuatAktivitas baik
≥ 20Sangat kuatPertimbangkan isolasi senyawa aktif

Untuk antibiotik komersial, selalu gunakan CLSI M100 atau EUCAST breakpoints. Strength band di atas hanya panduan kualitatif ekstrak bahan alam.

2.2 Persamaan Inti

Mean & SD: $\bar{x} = \frac{1}{n}\sum x_i$, $s = \sqrt{\frac{1}{n-1}\sum (x_i - \bar{x})^2}$

CV (%): $\text{CV} = (s/\bar{x}) \times 100$

Welch's t-test: $t = (\bar{x}_1 - \bar{x}_2)/\sqrt{s_1^2/n_1 + s_2^2/n_2}$

One-way ANOVA: $F = \text{MS}_B / \text{MS}_W$

2.3 Asumsi & Batas Validitas

AsumsiKonsekuensi jika dilanggarCara cek di SQalytics
Inokulum 0.5 McFarland (~$1.5 \times 10^8$ CFU/mL)Zona bias antar sampelCatat OD₆₀₀ di metadata
Ketebalan agar konstan (4 mm, CLSI)Difusi tidak comparableSOP plate prep dengan dispenser
Suhu inkubasi standar (35 ± 2 °C, 18–24 h)Pertumbuhan miringCatat inkubator log
Diameter diukur via caliper kalibrasiBias pembacaan visualDual-reader; report CV ≤ 10%
Replikasi ≥ 3 per perlakuanStatistik tidak reliableModul flag warning jika $n < 3$
Diameter cakram seragam (6 mm)Diameter zona total biasPakai cakram batch sama

3 Cara Kerja

3.1 Step-by-Step di SQalytics

  1. Buka Inhibition Zone Analysis dari domain Mikrobiologi Pangan.
  2. (Opsional) Muat seed micro_inhibition.
  3. Pada Check the current inhibition table, pastikan data terbaca.
  4. Pada Confirm the group and zone columns, sesuaikan: Group / sample column dan Zone diameter column (mm).
  5. Pada Choose the analysis mode and run, pilih Summarize and compare groups atau Summarize only.
  6. Klik Run Inhibition Zone Analysis.
  7. Tinjau hasil: conclusion → Summary → Distribution → Mean Graph → Result Table.

3.2 Template Tabel Input + Contoh Data Sintetis

KolomTipeSatuanWajibCatatan
TreatmentcategoryLabel perlakuan
Zone_mmnumericmmDiameter zona

Contoh data sintetis (15 baris — 5 perlakuan × 3 replikasi, ekstrak Singkil vs S. aureus):

TreatmentZone_mm
DMSO (kontrol -)6.0
DMSO (kontrol -)6.0
DMSO (kontrol -)6.0
Ekstrak Singkil-UAE15.2
Ekstrak Singkil-UAE14.8
Ekstrak Singkil-UAE15.5
Ekstrak Singkil-MAE18.5
Ekstrak Singkil-MAE19.2
Ekstrak Singkil-MAE18.8
Ekstrak Singkil-Maserasi11.5
Ekstrak Singkil-Maserasi12.0
Ekstrak Singkil-Maserasi11.8
Ciprofloxacin (kontrol +)28.5
Ciprofloxacin (kontrol +)29.0
Ciprofloxacin (kontrol +)28.8
SYNTHETIC Uji disk diffusion (Kirby-Bauer) ekstrak daun Singkil terhadap S. aureus ATCC 25923, cakram 6 mm, inkubasi 18 h pada 37 °C, n = 3 replikasi. DMSO kontrol negatif (zona = diameter cakram). Ciprofloxacin 5 μg kontrol positif. Tiga teknik ekstraksi: MAE > UAE > Maserasi. CSV setara: docs/assets/example-data/id/microbiology/template_inhibition_zone.csv.

3.3 Contoh Luaran

Tabel Result Table (n = 3):

TreatmentMean (mm)SDCV (%)Strength band
DMSO (kontrol -)6.00.000.0— (no inhibition)
Maserasi11.80.252.1Sedang
UAE15.20.362.4Kuat
MAE18.80.351.9Kuat (mendekati sangat kuat)
Ciprofloxacin (kontrol +)28.80.250.9Sangat kuat

Tabel ANOVA (one-way, 5 grup, $n_{\text{total}} = 15$):

SourcedfSSMSFp
Between4919.5229.93284< 0.0001
Within100.700.07
Total14920.2
Kesimpulan ringkas: "Lima perlakuan menunjukkan perbedaan zona hambat sangat signifikan (one-way ANOVA, $F_{4,10} = 3284$, $p < 0.0001$). Urutan aktivitas: Ciprofloxacin (28.8 mm) > MAE (18.8 mm) > UAE (15.2 mm) > Maserasi (11.8 mm) > DMSO (6.0 mm). Kontrol negatif berperilaku sesuai harapan. Tiga teknik ekstraksi memberikan profil berbeda: MAE 59% lebih besar dari Maserasi dan 24% lebih besar dari UAE — konsisten dengan literatur ekstraksi assistif. MAE masuk strength band 'Kuat' (15–19 mm) mendekati 'Sangat Kuat'. Replikasi sangat konsisten (CV ≤ 2.4%). Lanjut ke Compare Many Groups untuk post-hoc Tukey HSD; pertimbangkan uji microdilution MIC pada MAE."

Grafik utama: dua panel — (a) box plot distribusi zona per perlakuan dengan jitter; (b) bar chart mean ± SD dengan strength band shading.

Distribusi zona hambat dan bar chart dengan strength band
Gambar 1. Uji difusi cakram ekstrak Singkil terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 (n = 3 replikasi per perlakuan). (a) Box plot distribusi diameter zona hambat per perlakuan dengan overlay jitter titik individual. DMSO kontrol negatif (abu-abu) tepat di 6 mm (= diameter cakram, tidak ada inhibisi); ciprofloxacin kontrol positif (teal) di 28.8 mm. Tiga teknik ekstraksi memberikan zona berbeda: UAE > Maserasi, dengan MAE menghasilkan zona terbesar (18.8 mm) di antara ekstrak. (b) Bar chart mean ± SD dengan empat shading horizontal yang menandai strength band heuristik (Lemah / Sedang / Kuat / Sangat kuat). Maserasi berada di band Sedang (8–14 mm), UAE dan MAE di band Kuat (15–19 mm), Ciprofloxacin di Sangat kuat (≥ 20 mm). One-way ANOVA: $F_{4,10}$ = 3284, $p$ < 0.0001 — perbedaan antar perlakuan sangat signifikan.

4 Kesimpulan

4.1 Relevansi Real-World

Pada Rencana Publikasi Singkil v5, modul ini dipakai pada T2 Tahap 2 untuk skrining aktivitas antimikroba ekstrak Singkil sebelum studi MIC dan time-kill kinetics.

4.2 Where to Go from Here

Pembacaan lanjutan:

Troubleshooting Cepat

Kolom grup tidak terdeteksi. Pastikan kolom perlakuan berisi label teks konsisten (case-sensitive).
Kolom diameter tidak terdeteksi. Pastikan kolom zona numerik, bukan teks campuran ("15 mm").
Hasil uji tidak muncul sesuai harapan. Cek apakah setiap kelompok punya ≥ 3 replikasi setelah baris kosong dibersihkan.
ANOVA tidak signifikan padahal visual jelas berbeda. Cek heterogenitas variansi via Levene test; pakai Welch ANOVA jika variansi tidak homogen.
CV antar replikasi > 10%. Indikasi pembacaan diameter bias — pakai dual-reader atau kalibrasi caliper.
Zona kontrol negatif > 6 mm. Indikasi DMSO/pelarut memiliki aktivitas — gunakan kontrol negatif yang inert atau air steril.

i Riwayat Revisi

TanggalRevisiPenulis
2026-05-12Migrasi MD v2 → HTML final dengan figure dual-panel box + bar strength band + caption Elsevier-styleClaude
2026-05-12Migrasi v1 → v2 (template publikasi + KaTeX Welch/ANOVA + strength band + APA CLSI/Bauer)Claude
2026-05-09Draft awal v1Tim docs

4 Referensi

  • Bauer, A. W., Kirby, W. M., Sherris, J. C., & Turck, M. (1966). Antibiotic susceptibility testing by a standardized single disk method. American Journal of Clinical Pathology, 45(4), 493–496. https://doi.org/10.1093/ajcp/45.4_ts.493
  • Clinical and Laboratory Standards Institute. (2023). M02-A14: Performance standards for antimicrobial disk susceptibility tests (14th ed.). CLSI.
  • Clinical and Laboratory Standards Institute. (2024). M100: Performance standards for antimicrobial susceptibility testing (34th ed.). CLSI.
  • European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing. (2024). EUCAST disk diffusion methodology (v. 11.0). EUCAST.
  • Balouiri, M., Sadiki, M., & Ibnsouda, S. K. (2016). Methods for in vitro evaluating antimicrobial activity: A review. Journal of Pharmaceutical Analysis, 6(2), 71–79. https://doi.org/10.1016/j.jpha.2015.11.005
  • Montgomery, D. C. (2017). Design and analysis of experiments (9th ed.). John Wiley & Sons.